Rintikan hujan tak kunjung reda, membuat udara semakin mencengkram di ruas-ruas tulangku. Aku pun bergegas mandi dan menghangatkan tubuh. Dan memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya aku melakukan rutinitas sperti biasanya. Bangun pagi dan keskolah. Disekolah aku begitu antusias dan penuh semangat. Meskipun trkadang banyak ksulitan dan kesalah fahaman, aku tetap tersenyum mengadapi semuanya. Lagipula banyak sahabat yang setia menghibur dan membantuku. Siang menjelang bel pulang skolah hp ku bunyi.
"Halo."
"Iya.Halo. Ini disya kan?"
"Iya. Ini siapa ya?"
"Aku Arul. Yang kemarin sama Dandi."
"Maaf. Kamu yang mana ya. Soalnya yang aku sapa kmarin kan cuma dandi."
"Aku yang di sebelahnya Dandi yg minjemin hp buat nulis nomor kamu."
"Owh itu. Tapi aku gak tau jelas sama kamu."
"Gakpapa kog. Lama kelamaan juga pasti ngerti. Oh yha. Aku ganggu waktu kamu gk..?"
"Oh gk. Kebetulan ini udah mau pulang skolah. Kamu sndiri gak skolah?"
"Skolah sich tadi pagi. Tapi udah pulang."
"Skolahmu enak ya. Jam segini udah pulang."
Keesokan harinya aku melakukan rutinitas sperti biasanya. Bangun pagi dan keskolah. Disekolah aku begitu antusias dan penuh semangat. Meskipun trkadang banyak ksulitan dan kesalah fahaman, aku tetap tersenyum mengadapi semuanya. Lagipula banyak sahabat yang setia menghibur dan membantuku. Siang menjelang bel pulang skolah hp ku bunyi.
"Halo."
"Iya.Halo. Ini disya kan?"
"Iya. Ini siapa ya?"
"Aku Arul. Yang kemarin sama Dandi."
"Maaf. Kamu yang mana ya. Soalnya yang aku sapa kmarin kan cuma dandi."
"Aku yang di sebelahnya Dandi yg minjemin hp buat nulis nomor kamu."
"Owh itu. Tapi aku gak tau jelas sama kamu."
"Gakpapa kog. Lama kelamaan juga pasti ngerti. Oh yha. Aku ganggu waktu kamu gk..?"
"Oh gk. Kebetulan ini udah mau pulang skolah. Kamu sndiri gak skolah?"
"Skolah sich tadi pagi. Tapi udah pulang."
"Skolahmu enak ya. Jam segini udah pulang."
"Iya soalnya mau ada event di skolah."
"Ya udah. Aku mau lanjutin belajarku rul."
Semenjak saat itu aku dan Arul sering telfon. Dua minggu berlalu. Tiba-tiba saja nomor tanpa nama menelfonku.
"Halo.."
"Hai disya. Lagi apa kamu. Kog lama amat jawab tlfonku."
"Maaf.. ini siapa ya.?"
"Masa kamu lupa sama suaraku. Aku Dandi."
"Eh kamu."
"Kamu save ya nomrku. Biar nambah temen."
"Okay."
"Btw.. kamu kog cuek si.. takut ada yg marah?"
"Enggk kok. Malah takutnya kamu yg di marahin sama yg punya."
"Aku masih single. Dan masih mencari yg pas aja."
"Oh gitu."
"Kapan-kapan main yuk. Ya itung-itung buat hari persahabatan kita."
"Gimana ya.?! Bukan nya gak mau. Tp sekarang aku kan kelas 3. Jadi... Banyak Tugas yg harus di slesain. Bentar lagi kan ujian."
"Ya udah deh. Lain kali aja gpp."
"Udah dulu ya. Aku masih banyak tugas ini."
"Bey.bey sya.."
"Okay."
Persahabat kian erat. Aku dan dandi hampir setiap hari saling kirim pesan singkat. Suatu ketika tiba-tiba dandi mengirim pesan.
"Disya... Entah apa yg terjadi. Semua terjadi begitu saja. Saat itu menerpa bumipun terasa penuh warna. Langit-langit biru menghiasi pertemuan. Hidup terasa penuh kebangkitan. Terimakasih untuk kebahagiaan yg ada. Mungkin terlalu cepat. Tapi semakin lama semakin menyiksa. Maaf aku terlalu mengharapkan kasihmu."
Seketika itu aku bingung. Dengan smua penjelasan pesan dandi. Dan saat itu aku masih terpuruk karena masa lalu. Kini sudah datang masa baru. Tapi aku tak bisa untuk menjawab perasaan itu. Karna bagitu itu terlalu cepat. Dan masih sebulan yg lalu kita berkenalan. Berbagi misscall tak ku hiraukan. Karna aku benar-benar tak tau harus bagaimana menjelaskan pobiaku di masa lalu. Akhirnya aku kembali menuliskan pesan untuk Dandi.
"Maaf. Mungkin itu terlalu cepat untuk ku. Dan tolong beri aku waktu untuk menjelaskan smua perasaanku tentang itu. Untuk sementara jangan ganggu aku dulu."
***
Hembusan malam yg sunyi membuat hati ini semakin gelisah. Mungkin karna perasaan yg tak menentu. Tapi aku tidak bisa larut terus dalam kegelisahan ini. Karna memang tujuanku hanya untuk menjadikannya sahabat. Lalu aku berfikir untuk menelfon Arul. Mungkin dia bisa memberi solusi atau membantuku keluar dari masalah ini, lagi pula arul juga sahabat dekat Dandi. Pasti lebih tau soal Dandi.
"Hallo arul."
"Hallo. Iya sya.. ada apa?"
"Bagaimana kabarmu? Kog lama gk ada kabar. Takut cewekmu marah ya.?"
"Enggk kog. Aku masih sigle. Tumben kamu telfon?"
"Gpp.. gak boleh ya?"
"Boleh banget kog. Kamu lagi rindu aku ya?"
"Enggk juga. Bole nanya gak? Tp jawabnya harus jujur."
"Iya. Nanya aja. Bebas kog."
"Dandi itu orangnya gima sih?"
"Dia biasa-biasa aja."
"Maksut aku. Baik gk?"
"Baik."
"Kog gitu amat jawabnya. Meragukan."
"Habisnya kamu telfon cuma buat nanyain Dandi."
"Kenapa? Kamu gk suka?"
"Ya kamu klo mau nanya soal Dandi ya ke orangnya aja. Aku g ngerti apa-apa soal dia."
"Kamu kan temen deketnya, masa iya g tau?"
"Emmb...Kamu suka ya sama dandi?"
"Enggk kog."
"Bilang aja suka. Nanti tak sampein."
"Gk kog. Eh dia itu udah punya cewe belum?"
"Katanya gak suka. Tapi nanyanya sampe situ."
"Ya kan cuma nanya aja."
"Terserah kamu lah. Dan aku gak tau dia udah punya cewe apa belum. Kayanya belum."
"Kamu kan temen baiknya. Masa iya gk tau."
"Beneran aku emang gak tau. Coba kamu tanya sama dandi langsung aja."
"Gk lah.. nanti di pikir macem-macem."
"Ya dari pada kamu tanya aku terus jawabannya gk tentu."
"Kamu knapa sih. Kayanya gk suka kalo aku tanya soal itu?"
"Gpp. Lagi males aja buat ngapa-ngapain. Udah dulu ya. Mau istirahat aku."
"Ya udah lah. Slamat istirahat."
Beberapa hari setelah itu
Trimakasih reader.😍
ReplyDelete